News

PESONA DI UJUNG TIMUR NUSANTARA

11 September 2017

DARI KEDAI KOPI SAMPAI TARIAN MAGIS BURUNG CENDRAWASIH

Kota Ambon surganya kedai kopi

Kadang benar kata orang, keberuntungan itu datang tak di duga. Khayalan mengunjungi Raja Ampat di Papua Barat seolah menjadi kenyataan. Hampir tidak percaya dan bercampur heran ketika pemilik tempat bekerja penulis memperlihatkan tiket pesawat Bandung ke Ambon. “Lho pak, katanya mau diajak ke Raja Ampat untuk bertemu mitra bisnis, kenapa ini ketibaan di Patimura International Airport” dengan penuh heran. “kita mampir dulu Ambon ya” seru Mas Wiwied pemilik C59. Oh rupanya ada kegiatan bisnis juga yang harus dilakukan di Kota Ambon sebelum nanti berlanjut ke Raja Ampat melalui penerbangan ke Sorong.

Bertandang ke Kota Ambon kali pertama mengiring ingatan penulis kepada peristiwa konflik ambon awal reformasi bergulir. Rasa was was sirna ketika keluar bandara dan menuju perjalanan kepusat kota. “Menawan sekali kota ini” gumam penulis. Dulu perjalanan kepusat kota dari bandara harus menyusuri teluk ambon. Beda kini, setelah Jembatan Merah Putih bias dilintasi, dapat memangkas waktu menjadi lebih singkat. Birunya air laut melengkapi kesempurnaan pemandangan seputar Teluk Ambon ketika menyusur di atas Jembatan Merah Putih. Inilah tengara baru Kota Ambon. Selain tengara fisik, Ambon juga memiliki julukan“ City of Music”. Tak terbantahkan, Ambon memiliki segudang talenta di dunia tarik suara. Hampir sebagian besar ruang makan di seluruh penjuru kota selalu menyajikan live music.

Sebagai Penyuka sepeda dan tamasya,  kesempatan emas jika ada kegiatan pekerjaan di luar kota,  bias menikmati budaya, kuliner otentik dan permainya alam setempat sambil mengayuh sepeda. Seakan larut dalam denyut kehidupan warga lokal. Bagi sebagian pesepeda, setelah bermandi keringat usai larut dalam kayuhan, menuntaskannya dengan cara menyesap secangkir kopi.

 

Salah satu lokasi pilihan tempatnya adalah RM KOPI MORO. Terletak di Jalan Yos Sudarso sudut belakang pertokoan Ambon Plaza. Kesederhanaan tempat dan harga hemat tidak mengurangi kenikmatan secangkir kopi susu manis dengan kudapan khas setempat seperti Bobenka, Nasi Pulut Unti, Gogos dll. Tentunya Masih banyak puluhan kedai kopi yang menyajikan menu sejenis seperti Kopi Shibu Shibu, Kopi Lela dan puluhan kedai kopi lainnya. Masing masing tempat memiliki pelanggan tetap. Kedai kopi memang menjadi arena diskusi informal dan ruang bercengkrama penuh keakraban. Ketika berkunjung ke Kota Ambon sempatkanlah memanjakan diri di salah satu kedai kopi ini sesuai pilihan harga dan lokasi yang disukai. Jangan takut masalah harga, semuanya masih ramah dikantong pengunjung.

Raja Ampat Salah Satu Habitat Asli “Bird Of Paradise”

Perjalanan menuju salah satu tujuan wisata kelas dunia yang  terletak di bagian timur nusantara ini, dilakukan penulis dari Ambon menuju Sorong melalui transportasi udara. Dilanjutkan dengan ferry kapal cepat menuju Waisai, Ibukota Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Kepulauan Raja Ampat memiliki 4 pulau terbesar yang membentuk namanya, Pulau Waigeo, Pulau Salawati, Pulau Batanta dan Pulau Misool. Beberapa destinasi menarik di Raja Ampat yang bias dikunjungi terbagi atas 2 pilihan, wisata atas air dan bawah air. Bagi pengunjung yang memilih wisata bawah air, tentu harus memiliki syarat keahlian menyelam. Spot terbaik untuk menyelam ada di sekitar Pulau Mansuar seperti Mike Point dan Mantra Point. Nah, bagi pengunjung yang tidak memiliki keahlian menyelam, pilihan wajib wisata atas air adalah Pulau Wajag dan Pulau Pianemo. Spot ini menawarkan panorama yang sungguh menakjubkan. Tentu butuh usaha tidak mudah untuk mencapai titik tertinggi di kedua pulau ini. Untuk mencapai pulau Wajag dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Waisai. Jalur menanjak yang belum memadai untuk menuju titik tertinggi di Pulau Wajag sungguh menantang adrenalin. Berbeda dengan Pulau Pianemo, dengan waktu yang cukup singkat dicapai dari Waisai sekitar 1.5 jam, jalur menuju puncak sungguh nyaman. Pijakan yang terbuat dari kayu besi, konon jumlahnya sekitar 302 buah pijakan untuk menuju puncak. Alhamdulillah, meski keringat bercucur deras terbalas oleh pemandangan yang menakjubkan. Sungguh indah, Pianemo yang dijuluki sebagai Wayag kecil, pemupus rasa kecewa karena tidak menjejak P Wayag. Untuk wisata atas air lainnya, sempatkan mengunjungi Teluk Kabui, untuk menemukan kesunyian dan suasana beraroma mistis berlatar tebing karst yang menjulang.

Aktifitas yang tak kalah menyenangkan di Raja Ampat selain wisata bahari adalah bird watching. Hutan di wilayah ini memiliki 250 jenis burung. Salah satu burung ikonik tanah papua adalah burung cendrawasih. Pesona keindahan warna bulu, merdunya suara dan tingkah laku burung ini menjadi daya pikat burung endemik yang dapat dijumpai di wilayah timur Indonesia. Burung cendrawasih merah (Paradisaearubra) adalah salah satu tipe yang paling popular dan menjadi maskot di kampong Sawingrai Distrik Meos Mansar, Raja Ampat. Selain 3 jenis lainnya yaitu cendrawasihbesar (Paradisaeaapoda), cendrawasih kecil (Paradisaea minor) dan cendrawasih belah rotan (Cicinnurusmagnificus). Perjumpaan yang diluar rencana. Awal perjalanan di Raja Ampat memang tidak memasukkan bird watching sebagai destinasi utama. Usulan mengunjungi Sawingrai disampaikan oleh Mas Wiwied. “Selagi di Papua, Besok pagi kita lihat cendrawasih” ujar Mas Wiwied ketika kami sedang menikmati sunset di homestay yang kami pilih di PulauMansuar Kecil ( PKri).

Pukul 4.00 WIT kami bangun dan bersiap siap untuk berangkat ke Sawingrai. Tanpa banyak persiapan kami langsung naik boat dan 30 menit kemudian kami sampai di Jetty Sawingrai. Pagi masih gelap, terdengar sayup nyanyian lagu diiringi gitar. Entah dimana orang sedang bermain gitar di pagi nan gelap. Ayaw, operator boat menuntun kami sampai gapura pintu masuk menuju pedalaman hutan. Bertemu dengan sang pendendang lagu di pagi buta. “ Saya Mayor, ini dari mana” ujar sang pendendang lagu. Nama lengkapnya Yesaya Mayor. Oh rupanya pak mayor ini tetua yang mendiami kampong Sawingrai dan piawai memetakan dimana dan kapan cendrawasih bisa kita jumpai. Beliau mempersilahkan kami untuk berjalan mengikuti pemandu khusus yang akan mengantar sampai ketitik pengamatan di bukit manjai, butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai kesana. Dipandu senter yang dibawa pemandu, kami menyusuri jalan setapak dalam kegelapan pagi. “waduh banyak nyamuk nih” teriak penulis sambil menaiki bukit. Seolah tersadarkan muncul perasaan  waswas terkena gigitan nyamuk pembawa parasit Plamodium. Karena kami hanya bercelana pendek tanpa lotion anti nyamuk apalagi persiapan minum pil kina.

Rasa  Cemas terbayar kan oleh perjumpaan kami dengan “burung surga” di habitat alaminya. Setelah menunggu hampir 20 menit, pemandu yang pandai menirukan suara burung betina berhasil mengundang burung cendrawasih merah jantan bertengger di salah satu pohon tinggi, sekitar 20 meter di atas permukaan tanah. Dalam suasana hening sang burung jantan mempertontonkan tarian magis untuk memikat sang burung betina. Dua helai Ekor bak sungut Lele panjang bergoyang, jungkir balik, kepakan sayap dengan kombinasi warna kontras secara alami mengundang birahi lawan jenis. Komunikasi ala alam yang sungguh memikat. Akankah kelak generasi pewaris dapat ikut menikmatinya? Apakah hanya tinggal cerita bahwa dulu di tanah papua pernah ada “burung ikonik berasal dari surga” seperti hal nya badak cula satu di ujung pulau jawa yang sedang menjelang kepunahan?  Sungguh menjadi tanggung kita bersama untuk ikut menjaga dan melestarikan kekayaan alam yang sejatinya milik anak cucu sang pewaris kehidupan

"Raja Ampat yang selalu teringat

Walau hanya kunjungan singkat

Pesonanya membuat hati terpikat

Indonesia surgaalam yang memikat"

 

Panduan Perjalanan

  • Pilihan murah menuju Waisai dari Sorong menggunakan kapal Ferry Express bahari dengan 2 tarif sesuai fasilitas yang tersedia (VIP Rp. 220.000 Ekonomi Rp. 125.000)
  • Jelajah antar spot wisata yang tersedia di Raja Ampat melalui sewa speed boat dengan biaya Rp. 6.000.000 maksimal untuk 8 penumpang
  • Jenis penginapan di kepulauan Raja Ampat dapat terdapat 2 jenis, yaitu Resort bertarif mahal sesuai dengan fasilitas yang ditawarkandan Home Stay dengan tarif yang lebih terjangkau tentu berikut fasilitas yang dibatasi seperti listrik hanya malam hari dan kamar mandi terpisah di luar

 

Redaksi : Kunkun Kurniawan